Image default
Agriculture Technology News

Manfaatkan Teknologi dan Inovasi dalam Meningkatkan Produksi Jagung

Untuk meningkatkan produksi jagung maka perlu memanfaatkan lahan kering, perhutanan, dan perkebunan. Selain itu, perlu juga dukungan agroklimat yang sesuai, pemanfaatkan teknologi dan inovasi, kelembagaan serta penyediaan sarana dan prasarana.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi dalam perbincangan bertajuk “Dialog Agribisnis Bantuan Benih Jagung” bersama para tokoh pertanian pekan lalu.

“Sebenarnya kunci keberhasilan ada pada varietas. Pergantian varietas dapat memacu produktivitas. Saat ini ada 14 varietas unggul baru yang dilepas Bapak Mentan SYL tahun 2020 dan disamping itu yang sudah eksisting ada 59 varietas jagung komposit dan 261 varietas jagung hibrida,” ujar Suwandi sebagaimana dikutip dari Pertanian.go.id.

Terkait harga, Suwandi menyebutkan, sangat diperlukan penanganan bersama, tidak hanya oleh kementan. Dalam hal ini perlu sekali adanya alat panen, alat pasca panen pengering, silo, kemudian peternak juga agar punya gudang penyimpanan. Ia meyakinkan bahwa produksi jagung tahun ini tidak terganggu, namun demikian yang paling penting adalah bagaimana penyediaan alat dan penyimpanan yang cukup sehingga fluktuasi bisa diatasi dengan hilirisasi dan sarana logistik.

Sasaran luas tanam jagung adalah 4,26 Juta hektar dengan perkiraan produksi 23 juta ton dan produksivitas 5,58 ton per hektar. Bantuan benih jagung dari Kementan diutamakan untuk penangkaran benih, food estate serta untuk kawasan korporasi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Perpadi Sutarto Alimoeso mengatakan, untuk mengatasi permasalahan jagung perlu menggandeng dengan pabrik pakan. “Karena petani ini kan luas hamparan kecil-kecil dan tersebar, perlu juga penanganan khusus seperti Bulog yang ikut turun tangan,” ujar nya.

Sutarto juga menyebut pentingnya perluasan tanam jagung untuk pemenuhan kebutuhan jagung nasional di lahan-lahan yang tidak produktif seperti lahan perhutanan, perkebunan, dan lahan-lahan yang belum dimanfaatkan.

Sementara mantan Menteri Pertanian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Anton Apriyantono berpendapat, korporasi menjadi kekuatan untuk membangun kelembagaan pertanian. “Pola korporasi harus mulai dikenalkan dan dijalankan sehingga dari hulu sampai hilir berjalan baik,” sebutnya.

Di lain pihak, pengamat pertanian Farid Bahar mengatakan pentingnya peran pemerintah daerah. “Tugasnya pemerintah daerah ini mengkoordinasi dengan semua pihak terkait agar panen jagung segera dikeringkan, sehingga dapat disimpan lama, disinilah perlu adanya alat pengering. Tidak hanya itu, selanjutnya perlu juga penyimpanan jagung yang memadai,” sebutnya.

Farid menyebutkan pada daerah yang areal jagungnya luas, perlu dibangun silo penyimpanan jagung, agar jagung dapat disimpan sehingga harga tetap layak. Peran pemerintah pusat menurutnya ada disini, dengan membangun silo dan dryer kapasitas besar pada sentra-sentra produksi jagung. Farid meyakini petani akan berani melakukan investasi teknologi yang dianjurkan. Syaratnya apabila harga jagung yang diterima saat panen termasuk layak baginya.

Related posts

DynaFlex Draper Header 9350 AGCO Memenangkan Davidson Prize 2021

william

Mengapa Traktor Antonio Carraro Makin Banyak Gunakan Yanmar Engines?

william

Mengintip Traktor Diesel Kubota MX5100 4WD

william