Image default
Agriculture Tractor Machinery

Deutz Fahr Terobos Pasar Perkebunan Sawit, Singkong, dan Tebu

Maxi Utama Energy, salah satu penyalur mesin-mesin pertanian seperti traktor merek Deutz Fahr di Indonesia, mencoba menyesuaikan diri dengan pasar Indonesia. Apalagi Deutz Fahr adalah pendatang baru karena baru dimulai sejak 2014.

Meski demikian, mereka cukup optimistis bisa bersaing dengan para pemain lama karena mengusung sejumlah keunggulan baik dari sisi kualitas mesin itu sendiri maupun layanan purna jual. Sejauh ini mereka sudah bisa menerobos pasar perkebunan kelapa sawit, tebu, dan singkong.

Demikian benang merah wawancara Tractorindonesia.com lewat zoom dengan Direktur Pemasaran Maxi Utama Energy, Dadan H, di Jakarta Rabu (14/4/2021).

Menurut dia, pasar terbesar Deutz Fahr terbesar di Indonesia saat ini adalah perkebunan kelapa sawit. Selain itu, mereka juga merambah sektor pertanian perkebunan singkong dan tebu di Lampung.

“Fokus kami lainnya adalah government (pemerintah). Karena proyek pemerintah cukup besar penyerapannya. Kami mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk memasok traktor-traktor ke Kementerian Pertanian untuk dikirimkan ke seluruh wilayah Indonesia. Di luar itu, kita di kelapa sawit, perkebunan petani, ritel dalam hal ini petani-petani seperti di Lampung yang penggunaan traktor cukup besar. Ini cukup menjanjikan,” ujar Dadan.

Traktor produk Deutz Fahr yang dipasarkan di Indonesia, kata dia, berasal dari pabrikan di Italia dan India. Juga akan ada traktor-traktor merek asal Jerman itu yang diproduksi di China. Hanya saja, hingga saat ini yang dominan masih produk-produk dari Italia dan India.

Terkait harga, lanjutnya, sangat ditentukan oleh sejumlah variabel, terutama bea masuk. Untuk traktor yang didatangkan dari China, biaya bea masuknya 0%, sedangkan dari India 5%, dan Italia atau Eropa pada umumnya 15%. “Ini yang membuat harga traktor yang mereka jual menjadi berbeda-beda,” imbuhnya.

Sementara model traktor Deutz Fahr yang dipasarkan di Indonesia, jelasnya lebih jauh, ada tiga model. Yaitu traktor kelas 45 horse power (HP), kelas 55 HP, kemudian lompat ke kelas 80 HP, lalu kelas yang agak besar seperti 100 HP, dan 150 HP.

“Sebenarnya, kita masih punya kelas lebih besar hingga 300 HP. Ada yang 180 HP, dan 175 HP. Ada empat unit yang kita jual untuk kelas 200 HP. Tetapi pasar di Indonesia cenderung yang 45, 50, 80 kemudian lompat ke 100 HP,” ujarnya.

Keunggulan

Adapun tentang keunggulannya, produk mesin yang dikeluarkan Jerman itu tidak perlu diragukan kualitasnya. Produk Deutz Fahr didesain dengan injektor yang terpisah-pisah. Dengan begitu, kalau satu injektor mati, mesin tetap akan jalan. Dan saat perbaikan, yang dibenahi hanya injektor yang mengalami kerusakan tersebut. Beda dengan produk-produk lain yang bila injector mati maka mesin juga mati seketika.

Kelebihan lainnya adalah dalam hal perawatan mesin. Kata Dadan, mereka menyediakan teknisi yang langsung datang ke lokasi pengguna atau users. Bahkan, para teknisi ini juga melatih para pengguna di lahan pertanian atau di perkebunan mereka. Mereka juga melakukan kontrak servis dan suku cadang ketika traksaksi jual beli.

“Dengan cara seperti ini, kami ingin memberi pelayanan total dan para user kami hanya fokus pada bisnis utama mereka. Tidak direpotkan lagi dengan urusan mesin dan suku cadangnya,” ujarnya lagi.

Selain itu, mesin-mesin traktor buatan Deutz Fahr juga sangat hemat bahan bakar. Mesin-mesin traktor Deutz Fahr memang menggunakan bahan bakar solar, tetapi mereka juga sudah bisa 100% menggunakan biofuel. Hanya saja di Indonesia, penggunaan biofuel masih 20% dan akan menjadi 30%.

 

 

Related posts

Cummins Jadi Pemasok Engine Tunggal ke HCE

william

Pemakaian Mesin Pertanian Makin Intens di Food Estate Kalteng

william

Merlo perkenalkan telehandler dengan turret berputar

william